Custom Search

SATUR NAGUR

~SEBUAH TRADISI YANG PATUT DILESTARIKAN 
Oleh: Drs. Rikanson Jutarmadi Purba​

Para budak yang diperlukan diberi tugas
untuk memindahkan potongan-potongan buah catur itu.
Patung ini adalah Tuan (raja)
sementara orang bisa menunjuk batu lain
yang lebih menyerupai lesung padi sebagai timpa (kastil),
potongan lain disebut sitori atau ratu, gajah atau menteri,
huda atau kuda, dan bidak atau pion. (Tideman, 2012: 47)

 

 

PERMAINAN catur dimulai dari sebuah kesalahan fatal yang terjadi di tanah Hindustan, kira-kira awal abad keenam. Dua anak raja berebut tahta Hindu, tapi perebutannya dilakukan melalui saling bunuh di antara keduanya. Sang permaisuri –pada setiap tarikan napasnya– meminta agar pertarungan fatal itu segera dihentikan, tapi tidak berhasil. Akhirnya, satu di antara anaknya mati mengenaskan. Dia tak bisa memaafkan perbuatan anak satunya lagi, meskipun menang tarung.
Sang permaisuri sedih luar biasa. Dia memanggil orang-orang bijaksana untuk dimintai saran, bagaimana agar kesedihannya bisa berkurang. Siapa sih ibu yang rela anaknya mati, apalagi terbunuh oleh sesama anaknya sendiri? Saran diterima. Dibuatlah model-model seperti pasukan dalam sebuah peperangan. Ada raja, ratu, menteri/gajah, pejuang/kuda, kastil/benteng, dan pion, yang digerakkan di atas papan kotak-kotak hitam-putih. Permainan ini dimotivasi upaya menjelaskan kesalahan strategi dan taktik anak yang mati terbunuh itu.
Dari Hindustan, permainan ini masuk ke Persia, Eropa, dan selanjutnya disempurnakan oleh bangsa-bangsa Arab, sehingga muncullah permainan catur seperti yang kita kenal saat ini. Falsafah permainannya adalah adu strategi dan taktik untuk “memakan” (mengurangi) pasukan lawan, satu demi satu, hingga mendesak raja untuk menyerah dan akhirnya muncul pemenang di antara kedua belah pihak yang bertarung, tanpa darah yang mengalir menganak sungai.
Selanjutnya permainan ini masuk juga ke kerajaan Nagur (Simalungun mula-mula) di Sumatera. Esensi permainannya tetap sama: jika tidak bertarung untuk memperebutkan perempuan tercantik untuk dijadikan permaisuri atau selir dan juga pertaruhan budak, maka taruhan lain adalah wilayah kerajaan/kekuasaan. Aneksasi wilayah kerajaan lawan kerap ditentukan lewat permainan catur antar-raja.
J Tideman, Asisten Residen Afdeling Simalungun dan Tanah Karo tahun 1919-1922, dalam laporannya “Simeloengoen, Tanah Batak Timur dalam Keterasingan dan Perkembangannya menjadi Bagian dari Daerah Perkebunan Pantai Timur Sumatera” (terjemahan, 2012) mencatat:
“… Orang masih menunjukkan sebuah batu pada Bah Bolak di Tanah Jawa di mana raja Batangio biasa bermain catur dengan Tuan Syahkuda Bolak. Dengan melihat peninggalannya, sisa papan catur ini masih bisa dilihat. Juga di daerah Buttu Parsaturan (percaturan) di aliran kanan sungai Bah Sawa (daerah Panei), arus hulu dari kampung Panei, sebuah patung batu dalam sikap duduk (patung itu kini berada di Balai Pengadilan, Pematangsiantar) dan beberapa batu lain tanpa bentuk jelas, yang menjadi sisa dari permainan catur, diletakkan di tempat itu agar supaya para raja Nagur dan Batangio bisa bermain catur. Para budak yang diperlukan diberi tugas untuk memindahkan potongan-potongan buah catur itu. Patung ini adalah Tuan (raja) sementara orang bisa menunjuk batu lain yang lebih menyerupai lesung padi sebagai timpa (kastil), potongan lain disebut sitori atau ratu, gajah atau menteri, huda atau kuda, dan bidak atau pion”.
Yang unik dari sini adalah buah caturnya yang berukuran raksasa (Simalungun: “bolon”) dan lapangannya yang sangat luas, dimana buah catur digotong para budak saking besarnya. Pemain (para raja) duduk di tempat yang relatif tinggi seperti kursi juri bulutangkis, agar bisa melihat jelas posisi buah-buah catur. Dengan setengah berteriak, raja mengomandoi budaknya untuk memindahkan buah-buah catur seturut strategi atau taktik dan varian serangan yang ada di benaknya.
Budak-budak menggotong buah-buah catur dengan kepayahan saking beratnya. Bagaimana tidak berat, buah-buah catur tersebut terbuat dari batu pahatan dengan dimensi yang hampir menyamai ukuran anak-anak kelas enam SD?
Para penonton berdiri di sisi lapangan seperti menonton pertandingan tenis lapangan, bulutangkis, atau bolavoli, sambil memberikan komentar setengah suara. Penasihat raja (“Guru Bolon”) asyik membisikkan sesuatu ketika sang raja butuh nasihatnya untuk segera bisa mematikan langkah catur lawan dan sebaliknya melakukan serangan mematikan.

Satur Nagur jadi obyek wisata khas Simalungun 
Dalam teori pemasaran modern, disarankan bahwa produk atau layanan harus punya diferensiasi (pembeda) dari produk atau layanan sejenis. Satur Nagur ini sudah terdifirensiasi dari sono-nya, yaitu dari segi buah-buah catur yang berukuran raksasa dan bidang permainan yang seluas tenis lapangan. Kemudian gerak-gerik “anak gawang” (dulu budak) ketika mengangkat dan memindahkan buah-buah catur itu menjadi pemandangan tersendiri pula. Juga keriuhan para penonton di pinggir lapangan dan bisik-bisik “Guru Bolon” di telinga raja.
Di mana pun di Indonesia, permainan catur semacam ini tidak bakal ditemukan. Paling-paling selain situs peninggalannya ada di halaman Museum Simalungun Pematangsiantar, buah catur raksasa dan lapangannya yang luas bisa ditemukan di joglo taman belakang RS Horas Insani Pematangsiantar. Lantas, mengapa Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Simalungun, tak pernah sekali pun terpikir untuk mengembangkan obyek wisata unik ini?
Bayangkan saja, bila diadakan turnamen catur berhadiah lumayan antar-kabupaten/kota di Sumatera Utara, event ini bisa menjadi kalender tahunan pariwisata, karena babak penyisihannya bisa saja dimulai dari tingkat kecamatan, bahkan sejak nagori (desa), kelurahan, baru diteruskan kemudian antar-kabupaten/kota bahkan kemudian antar-provinsi seluruh Indonesia melalui kerjasama dengan Percasi secara berjenjang. Pertandingan itu tentu memakan waktu yang cukup lama.
Ketika belum diperoleh kepastian penyelenggaraan pilkada tunda Kota Pematangsiantar –satu-satunya daerah yang gagal menyelenggarakan pilkada serentak 2015 dan akhirnya baru diputuskan untuk diselenggarakan 16 November 2016 ini– di benak Penulis sempat terlintas sekelebat ide liar untuk “menentukan” Walikota dan Wakil Walikota Pematangsiantar periode 2016-2021 melalui pertandingan Satur Nagur ini di lapangan parkir pariwisata, seberang balai kota. Event ini sangat laku dijual kepada para sponsor, karena sangat layak media, sebab punya nilai berita dan entertainment yang sangat tinggi serta pantas masuk MURI-nya Jaya Suprana.

Pasangan Hulman Sitorus-Hefriansyah, Wesly Silalahi-Sailanto, Sudjito-Jumadi, danTeddy Robinson Siahaan-Zainal Purba, diadu secara setengah kompetisi yang disaksikan masyarakat Siantar-Simalungun dengan juri nasional GM Utut Adianto. “Budak-budak”-nya adalah Satpol PP Kota Pematangsiantar. Dua pasang finalis diadu dalam grand final dan kemudian sah…, “terpilihlah” Walikota dan Wakil Walikota Pematangsiantar periode 2016-2021 versi Satur Nagur.
Jika bisa diselenggarakan oleh KPUD Pematangsiantar di awal masa kampanye, event ini bisa dijadikan titik tolak kampanye damai dan semacam katarsis (pereda ketegangan) atas pilkada Kota Pematangsiantar yang saking panasnya, tertunda sejak 2015 hingga November 2016. Hitung-hitung sebagai hiburan untuk menyembuhkan rasa malu Siantar men.
Sah, mat sagala bisa…!

———————————————————————————————————————————————————-