Custom Search

PINDO PURBA – MUSIK SIMALUNGUN ERA DIGITAL

~ Sebuah analisa seorang Pengiat Musik Simalungun/Komposer ~

(Bagian Pertama dari 2 Tulisan)

 

oleh Pindo Purba*

Pindo Purba – Penulis Musik Simalungun Era Digital

 

Neosimalungunjaya.comTulisan Pindo Purba, seorang Komposer Muda Simalungun tentang “Musik Simalungun Era Digital” ini perlu kita perhatikan dengan serius. Analisanya begitu tajam dan disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Mungkin inilah tulisan seorang Komposer Simalungun tentang Musik Simalungun Era Digital yang pertama – setidaknya terpublikasikan secara umum saat ini.

Dengan jernih ia mendefinisikan apa itu Musik Simalungun, Industri Musik Simalungun, Permasalahan yang sedang dihadapinya, serta solusinya. Nah, yang sedang Anda baca ini adalah tulisan bagian awal (terdiri dari dua bagian). Selanjutnya, mari kita simak secara bersama-sama apa analisanya terhadap Musik Simalungun Era Digital ini…

 

 

PENDAHULUAN

Musik Simalungun adalah hasil ekspresi seni dan budaya masyarakat Simalungun dalam bentuk suara/bunyi-bunyian. Baik dalam bentuk tradisional seperti gual untuk tortor, taurtaur dan  musik hasil karya Orkes Nalaingan (kelompok musik Simalungun  era 60-70an), sampai musik-musik yang sekarang sering kita dengar. Semuanya adalah wujud ekspresi dan kreatifitas masyarakat Simalungun melalui pelaku-pelaku seninya yang selalu ingin menunjukkan identitasnya.

Tetapi sayangnya, di tengah era digital seperti sekarang, musik Simalungun masih belum mampu menggunakan potensi maksimal dari teknologi musik. Kurangnya pengetahuan, sumber daya, fasilitas dan keberanian mengakibatkan lemahnya eksplorasi dalam hal genre dan sound. Ditambah dengan minimnya pengalaman menggunakan media digital, mengakibatkan musik Simalungun kini berada dalam posisi stagnan.

Mari kita lakukan sebuah eksperimen sederhana, ketik kalimat: “musik Simalungun” pada kolom pencarian Youtube, maka akan muncul banyak video musik Simalungun. Jumlah terakhir adalah sekitar 10.000 video. Lalu dengarkan lah sekitar 200 video saja. Jika diklasifikasi berdasarkan genre musik, maka hanya ada 2 genre yang paling sering diproduksi yaitu:

  1. Ballad
  2. Disko Dangdut

Mengapa dari total 908 genre musik yang ada di dunia, musik dan lagu Simalungun hanya menggunakan 2 genre saja? Jika ini bukan mengindikasikan kondisi stagnan, khususnya bila ditinjau sisi kreatifitas, lalu adakah istilah yang lebih tepat?

Musik Blues dengan tempo naturalnya yang lambat dan kunci-kunci yang minor, sangat cocok untuk menyanyikan inggou ( suatu cara khas bernyanyi yang dimiliki masyarakat Simalungun). Selain itu, genre ini juga cocok dengan lirik lagu-lagu Simalungun yang banyak menyiratkan kerinduan, pengharapan, ratapan dan percintaan.

Orkes Nalaingan di tahun 1960-an, sudah menunjukkan bagaimana lagu Simalungun bisa dibungkus dengan genre Jazz, Latin dan lain sebagainya. Misalnya, lagu “Sihala Sitaromtom”, terbukti bahwa lagu Simalungun bisa dinyanyikan dengan teknik scat, sebuah teknik bernyanyi yang lekat dengan genre Jazz dan artis Al Jarreau. Bahkan jika berani bereksperimen, bisa mencoba ide-ide radikal seperti menggunakan genre musik EDM (Electronic Dance Music), musik yang dipopulerkan oleh generasi DJ-DJ sekarang, seperti David Guetta, Marshmallow sampai Skrillex. Di mana musik yang biasanya dimainkan melalui alat musik akustik, digantikan dengan permainan dan suara yang direplika oleh komputer. Ada juga alternatif lain, seperti mengembangkan musik Simalungun ke arah Orkestra atau bahkan Heavy Metal.

Tetapi sayangnya, pelaku industri musik Simalungun belum ada yang bisa melakukannya.

 

Lalu bagaimana masa depan musik Simalungun?

Semestinya pertanyaan seperti ini tidak ada lagi. Tapi, pertanyaan ini sudah timbul dan sekarang harus kita jawab sesegera mungkin. Dengan harapan, semoga pertanyaan ini tidak terulang lagi di generasi mendatang – akibat kegelisahan akan kondisi yang stagnan tadi.

Mari melihat rekam jejak yang ada, dan mencoba mengidentifikasi akar masalahnya.

 

 

WHERE DID IT GO WRONG?

 

  1. Naif dalam Menyikapi Perkembangan

Sebagian besar penikmat seni terlalu nyaman dalam menikmati musik Simalungun era tertentu dan genre tertentu.

Perlu dipahami, penikmat seni adalah salah satu pihak yang menentukan trend di pasar. Jika mereka suka dengan sebuah musik, mereka akan mendengarkan dan berkontribusi dalam kepopulerannya. Jika mereka tidak suka, sebaliknya.

Industri musik Indonesia, sebagai lahan bisnis yang mendapatkan keuntungan dari pasar musik, sudah pernah mengalami hal ini. Karena terlalu memanjakan penikmat musik, industri musik Indonesia pernah cukup lama terjebak dalam fenomena lagu-lagu Pop Melayu dan menjamurnya band beraliran Pop Melayu. Hal ini dianggap merusak kreatifitas industri musik Indonesia saat itu (serupa dengan kondisi industri musik Simalungun sekarang)

Bahkan, seorang Yovie Widianto (Kahitna, Yovie and Nuno) karena begitu gusar dengan kondisi tersebut, pernah memberikan komentar di atas panggung acara AMI “..AMI adalah Anugerah Musik Indonesia, bukan Anugerah Musik Melayu!…”

Beruntung, sejak saat itu, pengaruh Pop Melayu akhirnya menurun dan industri musik Indonesia kembali hidup dengan kreatifitas. Bayangkan jika sejak 2005-2017 kita terus mendengarkan lagu-lagu Indonesia dengan genre yang sama, pasti sangatlah jenuh. Persis seperti kondisi industri musik Simalungun tahun 1970-an hingga sekarang yang dipenuhi artis bergenre Ballad & Disko Dangdut.

Di sisi lain, sebagian besar pelaku seni memang terlalu takut untuk keluar dari trend pasar, dengan pertimbangan ekonomi. Walaupun sebenarnya, pelaku seni mempunyai posisi yang unik, dimana pelaku seni bisa menjadi pengikut trend dan sekaligus “trend setter”.

Industri musik Simalungun, sebagai pusat bermuaranya pelaku dan penikmat seni Simalungun, harusnya bisa lebih hidup secara bisnis dan kreatifitas. Jika seandainya, pelaku seni Simalungun berani membuat terobosan dari segi genre musik, didukung dengan marketing, promosi dan distribusi yang baik, maka pastilah keadaan kita akan jauh lebih hidup.

Jika memahami hal tersebut, sebenarnya pelaku seni dapat menjadi pihak “trend setter” dan “Trend maker” – penggagas ide yang kemudian akan diikuti banyak orang. Tetapi memang, keputusan untuk melakukan terobosan, selain seperti berjudi juga harus mengeluarkan modal yang besar – perlu pengetahuan dan strategi matang yang terukur.

Hal ini pernah dilakukan oleh Nirvana, sebuah kelompok musik yang berasal dari Seattle, Amerika Serikat, tepatnya pada tanggal 11 Januari 1992, dari posisi tidak diperhitungkan, Nirvana dengan albumnya “Nevermind” berhasil menjadi album no 1 menggusur posisi album Michael Jackson “Dangerous”. Kesuksesan Nirvana diakui oleh David Geffen Records sebagai perjudian yang berhasil. Di kala genre Pop sedang berjaya, tidak ada yang menyangka trend akan diambil alih oleh genre Grunge lewat Nirvana.

Kembali ke Simalungun… Meskipun ada fakta-fakta yang mendorong untuk melakukan terobosan, tetapi tidak ada pelaku industri Musik Simalungun yang berani melakukannya. Justru sebagian besar, berbondong-bondong salih gabe Ballad (beralih jadi Ballad) pakon (dan) Disko Dangdut. Keputusan itu, pasti didasari oleh alasan-alasan yang logis, seperti faktor ekonomi misalnya. Tetapi, keputusan menjadi gambaran bahwa kreatifitas dan keberanian pelaku seni Simalungun masih sangat kurang. Bersyukur sekarang sudah muncul musik terobosan yang baru, walau masih sebatas pergerakan di grass root. Sementara mayoritas pelaku seni, masih tetap menggunakan pola yang lama sebagai acuan kreatifitas mereka, dengan Ballad dan Disko Dangdut, sebagai sajian utamanya – sayang sekali.

Alhasil, pada saat generasi penikmat dan selera musik sudah mulai berganti, akan tetapi musik Simalungun ternyata belum siap untuk mengakomodasi permintaan di era digital – yang menuntut banyak perubahan. Dikarenakan oleh ketidakmampuan menjawab tuntutan inilah maka muncul kebosanan dan kejenuhan pasar. Inilah salah satu faktor, mengapa banyak penikmat seni Simalungun mulai sering mendengarkan musik tetangga. Penjelasan sederhananya, jika seorang pembeli datang ke toko kita dan kita tidak mampu melayaninya, sudah pasti dia akan pindah ke toko lain – kemungkinan yang alamiah.

Naif, tidak bijak menyikapi perkembangan, sehingga terlambat dalam menjawab tuntutan.

 

 

  1. Kurangnya Kreatifitas dalam Mengolah Tradisi

Banyak rambu-rambu yang ditempatkan untuk menjaga nilai seni, dengan harapan budaya, seni dan musik Simalungun akan terus murni. Meskipun di akhir hari, seni dan tradisi tetap terimbas erosi, hasil kreasi, masih minim eksplorasi. Yang harus digarisbawahi di sini adalah kata-kata minim eksplorasi. Kita tidak bisa menyangkal, keberanian untuk bereksperimen dalam menciptakan musik dengan genre-genre baru, juga memengaruhi bagaimana kita menggunakan warisan budaya kita dalam sebuah hasil karya. Jika kita tidak pernah atau jarang bereksplorasi dengan genre-genre lain, bagaimana mungkin kita bisa menggunakan warisan budaya kita dengan tepat? Memang Disko dan Dangdut adalah genre yang paling cocok bagi penggunaan warisan budaya kita? Tidak!

Sebagai contoh, musik Disko dan Dangdut dengan temponya yang cepat, tidak menyisakan ruang yang cukup untuk menggunakan warisan budaya kita seperti inggou secara baik. Di sinilah akhirnya terlihat, ada kecenderungan pelaku seni hanya sekedar memasukkan unsur budaya, tanpa pertimbangan yang matang.

Intinya adalah, seberapa sering pelaku seni mengasah kreatifitasnya? Jika terlatih, rambu-rambu budaya yang ada, tidak akan hilang dengan kesan “ditabrak”. Dengan kreatifitas yang tinggi dan terlatih, sebuah karya bisa tetap bernuansa Simalungun, meski tidak ada unsur budaya di dalamnya. Sebagai contoh, sebuah musik instrumental lagu Simalungun, meski tanpa vokal dan tanpa menggunakan bahasa Simalungun, bisa tetap bernuansa Simalungun. Dengan cara replikasi inggou menggunakan instrumen modern seperti gitar, piano atau synth yang kemudian didukung oleh pemilihan genre dan sound yang tepat.

Inggou itu warisan dari budaya dan seni yang merupakan bagian dari genre musik tradisional kita. Gunakan dengan sebaik-baiknya jika kita bisa – jangan memaksa, meski begitu janganlah kita berhenti berkreasi hanya karena:

 

“aduh, gak ada inggounya!”

 

  1. Jumani Simbalog

Terlalu sering membandingkan diri dengan tetangga, terlalu sering memandang ke arah mereka, terlalu sering mengikuti langkah dan kegiatan mereka, tetapi jarang mengolah kebun sendiri. Akhirnya, terlambat menyadari kekayaan budaya sendiri.

*hint: serma dengan-dengan, tortorhon, by Viky Sianipar.

 

  1. Tidak Melek Teknologi

Faktor terbesar musik top 40 atau musik popular di beberapa tahun terakhir adalah “sound”,dan dari mana Bruno Mars, Beyonce, Adele hingga Cold Play mendapatkan “sound” mereka? Ya, dari teknologi! Dimana sebuah bass line (walau sederhana) bukan dibuat dengan merekam suara 1 patch bass synth (suara bass yang dihasilkan secara elektronik) dari Keyboard Yamaha PSR s970.

Tapi merupakan penggabungan multilayer dari Subsonic*, Omnisphere*, electric bass dan sample* yang dimix dengan plugin* untuk fattening*, compressor* untuk leveling dan detailing*, belum lagi bicara outboard gear seperti LA2A/ Neve* yang disalurkan ke channel lalu dibumbui harmonik sirkuit* mixerboard* ternama seperti SSL* dan masih banyak lagi. Sementara kita sendiri, mambasa (membaca) manualni PSR ai pe seng ongga( tidak pernah).

 

*multilayer: proses menggabungkan banyak sumber suara untuk menghasilkan satu jenis suara

*vsti: instrumen musik virtual

*plugin: efek virtual

*subsonic: vsti plugin untuk menebalkan frekuensi bass

*omnisphere: vsti plugin dengan berbagai macam suara

*sample: suara yang sudah diubah menjadi data

*fattening: istilah memperindah suara bass

*compressor: alat untuk meratakan suara

*leveling dan detailing: istilah dalam proses mixing

*LA2A, Neve: perangkat luar yang digunakan untuk mixing

*harmonic sirkuit: Perubahan suara yang diakibatkan sirkuit elektronik

*mixer board: Pengendali Mixing

*SSL: Merk mixer legendaris

Studio Mini Rekaman – sumber foto google

Banyak artis, seniman Simalungun yang mempunyai talenta bagus tetapi tidak mampu menuangkannya dalam bentuk hasil karya. Semua dimulai karena mereka tidak mengerti teknologi produksi musik. Ini adalah bukti betapa generasi pelaku seni sekarang sudah merugi.

Rugi dari segi waktu dan pemikiran. Di saat pelaku seni yang lain di usia yang sama sudah bisa menuangkan talentanya dengan menciptakan lagu, merekam, memproduksi dan merilisnya ke media sosial langsung dari tempat tidurnya, pelaku seni kita masih berkutat dengan teknis musik dan mencari panggung.

Sebenarnya dari segi investasi finansial, waktu dan tenaga, bukan suatu hal yang sulit untuk dilakukan.

 

Misal, peralatan yang diperlukan dan masih terjangkau:

Laptop dengan prosessor i3/500/4GB                                    Rp.5.000.000,-

Mic, Soundcard, Headphone, Software Presonus      Rp. 2.500.000,-

 

Dengan spesifikasi di atas (sekitar Rp 7.500.000,-) seseorang sudah bisa mulai merekam lagu-lagu sendiri. Hasilnya, sudah bisa diupload ke Youtube atau ke website berbasis musik seperti Soundcloud.

Dari segi waktu, untuk mempelajari proses rekaman rumahan, tidak membutuhkan waktu yang lama. Dengan banyaknya video pelajaran tentang topik tersebut di Youtube, Vimeo dan lain sebagainya, sudah bisa memangkas waktu belajar menjadi lebih cepat, jika dibandingkan dengan mempelajarinya secara konvensional (buku, kursus/sekolah).

Sementara dari segi tenaga, memproduksi musik sendiri dengan dukungan teknologi sekarang juga tidak melelahkan. Sudah banyak teknik rekaman yang bisa memangkas tenaga pengerjaan rekaman menjadi setengahnya.

Dan teknologi ini pun, sudah tidak kalah dengan rekaman-rekaman di studio besar.

Format standard rekaman yaitu 44.100/16 bit, sudah bisa dihasilkan dengan sangat baik. Karena melalui teknologi sederhana seperti ini pun, rekaman bisa dilakukan di Format 48.000, 96.000, bahkan hingga 192.000/24 bit. Sederhananya, ibarat foto, bahwa foto yang dihasilkan kamera telpon genggam sekarang, tidak kalah secara kualitas dibandingkan dengan foto yang diambil menggunakan kamera profesional. Meski, ada perbedaan.

Komposer, Produser dan DJ kelas dunia pun, memulai karya mereka melalui laptop mereka. Perbedaannya hanyalah, mereka bisa mempunyai akses untuk mentransfer hasil kerja mereka ke studio yang lebih besar. Tetapi jika melihat dari kualitas, sudah tidak terhitung berapa track musik yang sudah dihasilkan dari sistem rekaman rumahan ini, yang pada akhirnya masuk ke tangga musik Billboard.

Dengan melek teknologi, pelaku seni memegang kendali penuh akan nasib hasil karyanya. Sesuatu yang tidak diinginkan oleh pihak label rekaman maupun studio besar. Dengan kendali penuh ini, maka peluang yang biasanya datang melalui pihak label/ studio, akan bisa langsung datang kepada si pelaku seni. Meminjam istilah Barat “cutting out the middle man” dan mengizinkan pelaku seni untuk mendapatkan keuntungan penuh, atas jerih payahnya.

Tidak bisa dipungkiri, terjadinya revolusi social dan kurangnya dukungan pemerintah, juga berkontribusi terhadap kondisi ini secara umum.Tapi, secara khusus, kesalahan berikutlah yang paling parah! Apa itu?

 

  1. Mereka yang Salah, Bukan Saya

Di satu sudut, sang penikmat memvonis si pelaku seni tidak kreatif dan tidak menarik, sementara tidak menyadari bahwa dia sendiri juga minim kontribusi. Sementara di sudut lain, si pelaku menyebut sang penikmat seni sebagai orang yang tidak menghargai dan tidak mendukung, sementara dia lupa bahwa dia sendiri, perlu belajar lebih lagi – sama-sama perlu introspeksi diri.

Seperti di sebuah ring tinju tanpa wasit, tidak akan ada yang berhenti sampai salah satu KO.

Dan jika hal di atas kita biarkan berlarut-larut, akibatnya sangat buruk bagi industri musik Simalungun. Karena meskipun ada pemenangnya, Yang satu tidak akan bisa bergerak tanpa yang lainjadi yang dibutuhkan adalah kerjasama, kolaborasi dan apresiasi.

*hint: Taralamsyah Saragih pindah ke Jambi dan masyarakat Simalungun yang rugi!

Oppung Taralamsyah

Untuk melangkah ke depan, kita juga harus belajar dari nasib Taralamsyah, Djawalim Saragih, Orkes Nalaingan dan seniman-seniman Simalungun terdahulu. Jangan lagi mengkopi apa yang mereka lakukan di zaman mereka.

Dulu, Orkes Nalaingan yang diprakarsai Taralamsyah dan Djawalim Saragih di tahun 1959, sudah merasakan betapa kurangnya dan minimnya apresiasi masyarakat Simalungun terhadap mereka. Ini adalah pelajaran pahit yang harus dipetik pelaku seni Simalungun dan masyarakat Simalungun.

 

KEKUATAN MARKETING DAN TEKNOLOGI

 

Tidak ada gunanya mengeluh tentang respon masyarakat Simalungun, karena itu adalah bagian dari kecenderungan mental-emosional halak Simalungun – yang mesti kita perbaiki. Mulailah mengedepankan prinsip hobas kreatif  (kerja kreatif di semua lini tanpa saling merendahkan, mencibir dan menjatuhkan, sama-sama kerja kreatif – hobas laita).

Tunjukkan melalui media sosial, gunakan media digital sebagai ajang marketing dan promosi, dan ubah panggung fisik menjadi panggung-panggung virtual, dimana para penikmat harus menjadi subscriber (pelanggan) yang bisa dikembangkan untuk menjadi pemasukan. Mulai mempelajari dan investasi dalam teknologi rekaman rumahan, dimana hasilnya sudah tidak kalah dengan rekaman di studio besar. Dengan demikian, mengurangi biaya yang keluar untuk menyewa studio dan lain sebagainya.

Marketing dalam industri musik mana pun, sejak dulu sampai sekarang, masih dikuasai oleh marketing dari pihak label dan music publisher (penerbit musik) dikarenakan, mereka sudah mempunyai vendor, media-media langganan dan mempunyai orang-orang yang memang digaji untuk menjual sebuah produk musik.

Meskipun begitu, marketing masih bisa diakali, kembali dengan menggunakan media digital. Tahukah Anda berapa harga untuk membuat iklan di Facebook selama 2 hari? lebih kurang Rp. 150.000,- . Harga yang masih masuk akal untuk dilakukan. Jangan lupakan merchandise, suatu bentuk marketing yang juga bisa digunakan sebagai pemasukan. Juga lihat aplikasi media sosial berbasis musik seperti musically, dengan kemampuan untuk membuat video pendek menggunakan lagu sendiri, aplikasi seperti ini bisa menjadi alat marketing di media digital yang kita gunakan.

Dalam distribusi, kita bisa melihat bagaimana iTunes & Spotify (dua program besar berbasis musik treaming dan download) berhasil mengubah industri musik, dengan menggunakan platform digital sebagai keunggulan mereka. Dengan membuat pilihan-pilihan yang membuat penikmat musik bisa lebih fleksibel dengan kondisi keuangan, latar belakang pribadi, selera, bahkan demografi. Atau dengan kata lebih sederhana, menciptakan jalur ekspres bagi penikmat, untuk bisa menikmati sebuah hasil karya.

Akibat itu, penjualan CD dalam bentuk fisik sekarang sudah berkurang. Artis dunia sekarang lebih memilih streaming, media sosial, views dan subscriber. Bahkan sebuah band bernama Marillion, saat ini mengandalkan crowd funding (pendanaan berbasis masyarakat) untuk membiayai produksi album dan tur mereka. Dengan mengandalkan website seperti patreon, kickstarter, pelaku seni sudah bisa mengajak penikmat untuk mengambil bagian aktif dalam perjalanan musiknya.

Zamannya sudah berubah, industri musik Simalungun pun sudah harus berbenah. Masih ada teman-teman dan masih ada kesempatan. Yang diperlukan sekarang adalah menyusun langkah-langkah, untuk mencapai tujuan dalam beberapa tahun ke depan.

 

(bersambung… nantikan kelanjutan tulisan bagian Solusi-nya)

(Editor admin NSJ – DEP)

 

BIODATA PINDO PURBA

BIOGRAFI PINDO PURBA

Nama : Agsontuah Napindo Purba

Nama Panggilan : Pindo Purba

Tempat/ Tgl. Lahir : Jakarta, 20 Agustus 1980

Pekerjaan : Komposer, Penata Musik, Session Player

Genre Musik : Pop, Gospel, Simalungun

Instrumen : Gitar, Bass, Drum, Piano

 

LATAR BELAKANG DAN KARIR

Mulai tertarik dengan musik di usia 15 tahun. Mulai menekuni musik melalui band sekolah hingga membentuk band top 40 pada saat kuliah. Tidak mengenyam pendidikan musik yang formil.

Sebagian besar dikembangkan secara otodidak melalui kegiatan-kegiatan gereja, dan mengambil kursus musik di beberapa lembaga seperti Farabi dan MSI..

Terinspirasi dari Taralamsyah dan Djawalim Saragih, mulai berkarya dalam usaha mengembangkan Budaya dan Seni Simalungun lewat musik.

 

KARIR

– Bumble Bee Studios Indonesia (2005 – 2012)

– Pop Up Audio Post (2012 – sekarang)

 

PARTIAL DISCOGRAPHY

– 2009 – Album “Happy”, Amy Mastura, Sony Music Malaysia (composer, arranger, session player, backing vocal)

– 2010 – Pizza Hut Compilation Album Vol. I (composer, arranger)

– 2012 – Album Soundtrack, Film Cita-Citaku Setinggi Tanah, (composer, arranger, singer)

– 2015 – Single “Tortorhon” PGKPS Cikoko (composer, arranger)

– 2017 – Digital Streaming Album, The Nalaingan Project Vol. I (producer) FILM

– 2009 – Garuda di Dadaku (assistant to Aksan Sjuman, music)

– 2012 – Demi Ucok (assistant to Andrie Yargana, sound design)

– 2012 – Cita-Citaku Setinggi Tanah (composer, arranger, singer)

 

IKLAN

– Torabika Creamy Latte

– Djarum 76 “Trial Game”

– Samsung Galaxy Tab 3

– Manulife – Zwitsal

– Coca Cola “Open Happines”

– Rexona Men “Do More Camp”

– Neorheumacyl

– We Chat

– Gudang Garam Djaja

– Phillips LED

– Teh Botol Sosro

– dll

 

LAGU/JINGLE

– Pizza Hut jingle (Dira Sugandhi, Pungky 5 Romeo)

– Wardah jingle (Dewi Sandra)

– Bintang Toedjoe jingle, (Cita Citata, Ramzi, Jamaican Café)

– Soundtrack Cita-Citaku Setinggi Tanah (Endah n Rhesa)

– Bebelac jingle “Love Is In The Air” (Adrian Martadinata)

– Kakao Talk jingle (JKT 48)

– Indomie jingle (Payung Teduh)

– Torabika jingle (Judika, Dian Sastro)

– Dll..

 

Mari kita nikmati lagu yang satu ini

Lagu Horas Simalungun – Aransemen Pindo Purba

 

Silahkan simak artikel bagian kedua ini:

PINDO PURBA: SOLUSI BERSIFAT JANGKA PANJANG ATAS PERSOALAN MUSIK SIMALUNGUN ERA DIGITAL